Haria, Kades Pejuang Lingkungan di Kaki Gunung Leuser

"Saya sangat peduli dengan pelestarian lingkungan, siapapun yang akan merusak saya akan menentang " ujar Muhammad Haria Lelaki paruh baya, berperawakan kurus dan berkulit agak gelap, ia adalah kepala desa atau dalam bahasa Aceh disebut Keuchik, Lawe Cimanok, kecamatan Kluet Timur, kabupaten Aceh Timur.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang peduli terhadap pelestarian hutan di Aceh Selatan. Meski tidak berpendidikan tinggi namun ia merupakan salah satu rujukan oleh para aktivis lingkungan. Pemikiran dan visinya ke depan telah menjadi inspirasi dalam menjaga alam agar lestari.

Menolak Perusahaaan Sawit

Pria yang dilantik menjadi kepala desa pada 2013 ini pernah menentang sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang perkebunan yang ingin membuka perkebunanan sawit di desanya " Perkebunan sawit sebenarnya lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya pada alam dan warga desa karena bisa membuat sumber air kering"ujarnya. Saat disodori surat untuk ditanda-tangani, Ia dengan tegas menolak, ia Bahkan menghadap bupati Aceh Selatan menegaskan penolakannya kepada bupati.

Lawe Cimanok dihuni oleh 380 KK dengan lebih kurang lebih 1000 Jiwa. Umumnya warga berprofesi sebagai petani. Desa ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan juga hutan lindung. Desa ini merupakan sebuah contoh dari usaha masyarakat disekitar hutan lindung dalam menjaga kelestarian lingkungan demi hidup yang lebih baik, desa ini juga masuk dalam desa binaan USAID Lestari, sebuah lembaga non Pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan di Indonesia, salah satunya mendorong pelestarian hutan Lueser, dan daerah daerah yang masuk dalam Lanskap Leuser.

Hutan disekitar desa sempat gundul karena pembukaan lahan oleh warga untuk berladang, akibatnya terjadi kekeringan sumber air. Warga terpaksa pontang panting mencari sumber air lain. Meski sumber air lainnya didapat namun tidak jernih, berwarna kuning dan tidak layak komsumsi. Masalah ini menjadi beban Lawe Cimanok.

Muhammad Haria kemudian mengumpulkan warga, agendanya mencari solusi. Hasilnya, kesepakatan bahwa warga tidak boleh lagi membuka lahan di daerah-daerah terutama yang dekat dengan sumber air. Sejak saat itu pembukaan lahan berhenti, dibekas hutan yang gundul, dibangun bak penampungan air bersih untuk warga, desa Lawe Cimanok kembali hijau.

Menolak Diberi Mobil Double Cabin

"Ketika warga menyadari bahwa perambahan hutan hanya akan merugikan, mereka tidak mau lagi membuka lahan, hutan yang dulu gundul kini telah menjadi hutan lagi" kenang Muhammad Haria, sumber air kembali melimpah, terutama air bersih yang langsung disalurkan ke warga, kualitas airnya tidak kalah dengan air kemasan.


Ia pernah ditawari mobil Double Cabin, saat sebuah perusahaan besar ingin membuka pertambangan batu bara di desanya "Saya berpikiran jauh kedepan, bisa saja kita mendapatkan keuntungan sesaat yang besar, tapi bagaimana kemudian nasib anak cucu kita kalau alam sekitar kita rusak, kasihan nasib mereka" ujarnya.

Ditengah gencarnya kampanye lingkungan yang digembar gemborkan oleh aktivis lingkungan saat ini, sosok Muhammad Haria mungkin dapat menjadi contoh kisah heroik kepala desa dalam menjaga pelestarian lingkungan terutama pelestarian TNGL dan Hutan Lindung di sekitarnya yang saat ini mulai terancam kelestariannya.

Arsadi Laksamana
Back To Top